100 Tahun Runtuhnya Turki Utsmani, Pakar UGM Urai Narasi Kebangkitan Khilafah

100 Tahun Runtuhnya Turki Utsmani, Pakar UGM Urai Narasi Kebangkitan Khilafah

Todaynusantara.com – JAKARTA – Narasi kebangkitan khilafah menghiasi media sosial bersamaan dengan peringatan tegas 100 tahun runtuhnya khilafah Utsmaniyah di tempat Turki. Menggunakan tajuk kebangkitan khilafah, optimisme yang mana dibangun oleh para pendukung khilafah tampak semu dan juga inkomprehensif.

Pengajar di tempat Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Mohammad Iqbal Ahnaf mencoba mengurai narasi yang mana kembali mencuat mengenai kemungkinan kembalinya khilafah pasca 100 tahun runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah. Sejak 1924, ketika khilafah Utsmaniyah runtuh, pada tahun ini beberapa kalangan mengklaim bahwa kembalinya khilafah akan menjadi kenyataan.

“Sejauh ini, klaim-klaim kebangkitan khilafah tak pernah merujuk pada satu bentuk atau model yang pasti. Apakah yang dimaksud bangkit nanti akan seperti khilafah di area zaman Dinasti Utsmaniyah, atau seperti apa?” kata Iqbal Ahnaf pada keterangannya dikutip, Hari Jumat (12/1/2024).

Ia menjelaskan, klaim 100 tahun sebagai panduan waktu kembalinya khilafah harus dihadapi dengan kehati-hatian. Dalam Islam, perkara mengenai masa depan, termasuk tanda-tanda hari kiamat kemudian kemungkinan kembalinya khilafah, adalah rahasia Allah. Klaim yang dimaksud spesifik terkait waktu, apalagi dengan percaya dirinya menyebutkan hitungan 100 tahun, menurut Iqbal, seringkali bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Dari segi empiris, Iqbal mengungkapkan, perjuangan kelompok Hizbut Tahrir untuk menegakkan Islam kemudian khilafah sampai ketika ini tidaklah menunjukkan indikasi keberhasilan. Meskipun terdapat upaya kudeta dalam beberapa negara, hasilnya tidaklah sesuai dengan harapan kelompok tersebut.

Selain itu, keterlibatan warga di area Indonesia menunjukkan bahwa basis dukungan terhadap model khilafah sebagai bentuk pemerintahan bukan menunjukkan peningkatan signifikan.

“Walaupun demikian, perlu dipahami bahwa kemungkinan ancaman dari ideologi transnasional itu akan setiap saat ada. Gagasan khilafah yang tersebut ditawarkan sebagai semacam panacea atau obat segala penyakit juga mampu menyembuhkan kekecewaan, ketidakadilan, kemudian emosi negatif lainnya jelas menggiurkan bagi beberapa masyarakat,” katanya.

Baca Juga:  Kepala BNN Tegaskan Bakal Menindak Anggota Polri kemudian TNI yang dimaksud Terlibat Narkoba

Menurutnya, ada dua jenis tawaran yang mana dibawa oleh pengusung khilafah. Pertama, adanya tawaran merupakan ide atau gagasan khilafah itu sendiri. Kedua, adanya support system, baik moral ataupun material, terhadap merekan yang dimaksud termarjinalkan.

(Sumber:SindoNews)

error: Content is protected !!